BRMP Sulawesi Barat Perkuat Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
POLEWALI MANDAR-Tim Produksi Benih Sumber Padi BRMP Sulawesi Barat melaksanakan kegiatan monitoring hama dan penyakit pada areal pertanaman padi di lokasi perbenihan saat tanaman memasuki umur 11 Hari Setelah Tanam (HST). Kegiatan ini merupakan bagian dari pengamatan rutin lapangan dalam rangka memastikan kondisi pertumbuhan tanaman tetap optimal serta mendeteksi secara dini keberadaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Monitoring dilakukan secara langsung pada beberapa titik pengamatan di areal pertanaman dengan metode observasi visual terhadap kondisi tanaman. Pengamatan meliputi tingkat pertumbuhan tanaman, keseragaman pertanaman, kondisi lingkungan lahan, serta identifikasi gejala serangan hama dan penyakit pada fase vegetatif awal.
Berdasarkan hasil monitoring di lapangan, tim menemukan adanya telur hama penggerek batang pada beberapa rumpun tanaman padi. Temuan ini menjadi perhatian khusus karena penggerek batang merupakan salah satu hama utama tanaman padi yang berpotensi menimbulkan kerusakan pada batang tanaman sejak fase awal pertumbuhan. Serangan hama ini dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan anakan, gejala sundep pada fase vegetatif, hingga penurunan produktivitas apabila tidak dilakukan pengendalian secara cepat dan tepat.
Menindaklanjuti hasil pengamatan tersebut, tim segera melakukan langkah antisipasi berupa peningkatan intensitas monitoring pada titik-titik yang terindikasi terdapat telur hama, serta melakukan pengendalian dini sesuai prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Upaya ini dilakukan untuk menekan perkembangan populasi hama sebelum memasuki fase serangan yang lebih luas dan merusak pertanaman.
Selain pengamatan terhadap hama, tim juga melakukan evaluasi terhadap kondisi kesehatan tanaman secara umum guna memastikan pertumbuhan tanaman berlangsung sesuai standar teknis produksi benih. Kegiatan monitoring rutin ini memiliki peranan penting dalam sistem pengelolaan perbenihan karena menjadi dasar dalam pengambilan keputusan teknis di lapangan, khususnya dalam menjaga mutu dan kualitas pertanaman benih sumber.
Melalui monitoring yang dilakukan secara berkala dan terstruktur, diharapkan potensi serangan hama dan penyakit dapat dikendalikan sejak dini sehingga kondisi pertanaman tetap sehat, pertumbuhan tanaman terjaga optimal, dan target produksi benih padi berkualitas dapat tercapai secara maksimal.(SD)